Konspirasi AS-Israel di Timur Tengah


Al-Muzzammil Yusuf dan Mohammad Safari
Center For Middle East Studies/COMES
Invasi pre-emtive strike Israel ke Ain as-Saheb, Suriah, Ahad (5/10), dinihari, disusul oleh intervensi pesawat-pesawat tempur Israel di atas kota Lebanon, Beirut, dan Tripoli, Rabu (8/10), telah menambah dan memicu eskalasi baru konflik di Timur Tengah. Serangan itu menunjukkan bahwa Israel bukan saja dapat dengan mudah melanggar wilayah teritorial negara lain, tapi juga menunjukkan kemampuannya untuk menghancurkan berbagai kekuatan anti-Israel, atau yang dinilai dapat mengancam keamanan Israel pasca-aksi bom syahid di kota Haifa, Israel selatan, yang menewaskan 19 orang, Sabtu (4/10).
Dari perspektif geopolitik, kita bisa memprediksi bahwa konflik di Timur Tengah bukan saja konflik antara Palestina-Israel an-sich, tapi juga telah merupakan skenario jangka panjang dari gerakan Zionis-Internasional untuk menguasai wilayah Palestina, khususnya, dan Timur Tengah secara lebih luasnya, melalui pembentukan “Israel Raya,” yaitu suatu tanah air Yahudi yang dijanjikan di dalam Talmud.
Tulisan ini mencoba menarik garis merah tentang terorisme yang melegenda sejak peristiwa 11 September 2001 lalu dan berbagai implikasi geopolitik di Timur Tengah akibat adanya konspirasi AS-Israel untuk mengontrol, menguasai dan mengendalikan wilayah tersebut.

Dukungan AS terhadap Israel

Pertanyaan yang paling penting adalah, mengapa AS selalu berada di belakang Israel? Untuk mengetahui jawabannya, kita perlu merujuk pada ucapan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, di hadapan parlemen Israel, Knesset, di Tel Aviv, tanggal 3 Oktober 2001, yang mengatakan, “Kamu (Simon Peres) menceritakan kepada saya tentang Amerika akan berbuat ini dan akan berbuat itu. Saya ingin menceritakan kalian sesuatu yang sangat jelas; jangan cemas tentang tekanan AS terhadap Israel. Kami, bangsa Yahudi, mengontrol Amerika. Dan rakyat AS mengetahui hal seperti ini.”
Namun malang bagi AS, kaum Zionis Yahudi di AS ternyata lebih loyal kepada negara Israel daripada kepada negara Amerika. Walaupun, yang terjadi sebenarnya menunjukkan, kejahatan negara Israel merupakan sebuah perluasan militer dan politik langsung dari AS sejak 1948. Dimana dibawah kepemimpinan Yitzhak Shamir, Menachem Begin, dan Ariel Sharon, semua tindakan teror yang brutal dari negara Israel melawan bangsa Palestina untuk lebih dari 55 tahun telah didukung secara penuh baik finansial, persenjataan, maupun politik, oleh pemerintahan AS. Suka atau tidak, setiap tahun AS memberikan bantuan keuangan mencapai 5 sampai 12 miliar dolar kepada Israel, yang tentu saja tak pernah dikembalikan lagi.
Kita juga bisa melihat bahwa pelanggaran berkali-kali yang dilakukan oleh Israel (didukung AS) terhadap hukum internasional dan konvensi Jenewa No 181, 194, 242, 338, dan lain-lain, termasuk deklarasi universal HAM melalui eklusivitas rasial, separatisme, pembersihan etnik, dan holocoust terhadap bangsa Palestina selalu didukung oleh kepentingan Yahudi di dalam pemerintahan AS melalui hak veto yang dimilikinya.
Hal itu menandakan bahwa kaum Zionis Yahudi di AS telah mendapat kekuasaan yang berpengaruh di semua lini atau bagian di pemerintahan AS, memiliki profesi yang legal dan menguasai semua tingkat peradilan, universitas, maupun perusahaan media massa yang berpengaruh sekaligus mendominasi keuangan nasional dan internasional. Kekuasaan yang mereka miliki, secara nyata dan jelas, digunakan dalam apa yang disebut sebagai “teori konspirasi” untuk mendukung segala kepentingan dari gerakan Zionis Internasional yang berbasis di AS dan Israel.
Kelompok parasit ekonomi dan kekuasaan politik dari Zionis Yahudi di dalam pemerintahan AS tersebut, kini mencapai puncaknya pada masa kekuasaan rezim Bush dengan munculnya Dick Cheney (Wakil Presiden), Donald Rumsfeld (Menteri Pertahanan), Richard Perle (Kepala Badan Kebijakan Pertahanan), dan Paul Wolfowitz (Wakil Sekretaris Menteri Pertahanan), yang pada tahun 1997 merancang “Proyek Pengendalian Dunia (PNAC)” untuk menguasai wilayah Timur Tengah. Mereka berkolaborasi dengan kelompok garis keras di Partai Likud-Israel, yang dipimpin oleh Ariel Sharon, untuk terus mempengaruhi dan mengendalikan berbagai kebijakan pemerintah AS.

Menguasai Timur Tengah

Kita mestinya mengetahui bahwa agenda dan tujuan utama dari konspirasi AS-Zionisme-Israel adalah menempatkan yahudi-yahudi imigran ke Palestina dan mengusir penduduk Palestina dari kampung halamannya ke negara-negara Arab sekitarnya. Kaum Zionis bercita-cita untuk membentuk “Eretz Israel” atau Israel raya, yaitu tanah yang dijanjikan di dalam Talmud, meliputi wilayah Arab Saudi, Suriah, Yordania, Mesir, sampai ke Irak, atau wilayah yang sekarang membentang dari sungai Nil sampai sungai Eufrat. Ini merupakan suatu wilayah paling strategis di dunia sepanjang jalur Mesopotamia. Selain itu, wilayah ini mengandung sumber energi minyak bumi yang paling besar di dunia.
Agar agenda dan tujuan mereka dapat terealisasi, AS dan Israel melakukan konspirasi atau kerja sama, secara terang-terangan ataupun rahasia, untuk mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai strategi “pengepungan teritorial” ke dalam wilayah Palestina maupun ke berbagai negara Arab yang punya potensi untuk mengancam eksistensi Israel. Di satu sisi, Israel bekerja keras untuk mengusir rakyat Palestina di wilayah Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza agar keluar dari Palestina menuju Gurun Sinai dan Yordan. Di sisi lainnya, konspirasi Zionis, Inggris, dan AS berhasil menciptakan kekacauan dalam sistem internasional dengan diabaikannya resolusi PBB dan penolakan perang dari seluruh penjuru dunia ketika sekutu menginvasi dan menguasai Irak.
Kita lihat, keberhasilan yang cepat dari invasi tersebut menyebabkan kekuatan-kekuatan strategis Arab menjadi semakin lemah. Akibatnya, keseimbangan kekuatan (power of balance) di wilayah Timur Tengah menjadi timpang dengan munculnya dominasi AS dan Israel di Timur Tengah. Dalam konteks strategis dan jangka panjang, mereka juga punya peluang besar untuk mengambil alih penguasaan ekonomi dan militer ke wilayah-wilayah Timur Tengah, Asia Tengah, dan Laut Kaspia yang kaya minyak tersebut.
Karena itulah kita bisa mencermati adanya benang merah antara kepentingan AS untuk menguasai sumber-sumber energi minyak dunia agar dapat menjamin kelangsungan industri dan ekonomi kapitalistiknya dengan kepentingan Zionis Israel untuk merealisasikan cita-citanya membangun “Israel Raya” yang dapat mengontrol Timur Tengah, khususnya, dan dunia, pada umumnya. Karena, seperti telah disebutkan, wilayah Timur Tengah, selain mengandung sumber minyak terbesar di dunia, juga dikenal sejarah sebagai pusat dari pergolakan peradaban-peradaban besar dunia.
Titik temu dua kepentingan tersebut pada akhirnya menciptakan kombinasi strategis untuk menguasai wilayah Timur Tengah secara keseluruhan antara upaya untuk membungkam dan sekaligus menghancurkan berbagai elemen kekuatan di dalam wilayah Palestina, yang kini dikomandoi oleh Hamas dan Jihad Islam ISLAM dan upaya untuk memperlemah negara-negara basis pendukung perlawanan seperti Lebanon, Suriah, dan Iran yang dinilai dapat mengancam Israel.
Karena itu “strategi pengepungan” keluar wilayah Palestina melalui serangan ke Suriah dan Lebanon dan pengerahan ribuan tentara Israel ke wilayah Palestina merupakan strategi dari AS dan Israel agar bisa menghancurkan berbagai elemen yang dapat mengancam skenario dan rencana jangka panjang AS-Israel membangun imperium dunia secara hegemonik.

Skenario peta jalan

Tapi kita juga mesti melihat suatu hubungan yang jelas antara rencana invasi AS ke Irak dan, pada saat yang sama, rencana proposal perdamaian “Peta Jalan” (Road Map). Inti dari proposal yang diprakarsai AS tersebut mengusulkan untuk menghentikan pendudukan Israel atas tanah Palestina yang dijajah sejak 1967 berdasarkan keputusan Dewan Keamanan PBB No 242, 338, 1379, dan keputusan KTT Beirut (28 Maret 2002) tentang perdamaian hingga terjadi penyelesaian secara keseluruhan dan universal segala konflik Israel-Palestina di tahun 2005. Walaupun demikian, kita masih bisa menangkap adanya “hidden agenda” dan “main mata” antara AS dan Israel.
Misalnya, proposal “Peta Jalan” yang diawasi tim kuartet tersebut, justru dipakai oleh Israel untuk melegalkan berbagai tindak opresi dan eksekusi terhadap rakyat Palestina dan menjadikannya sebagai instrumen keamanan Israel melalui negosiasi prioritas-prioritas dan kondisi-kondisi seperti diinginkan oleh Sharon dan Paul Mofaz (Menteri Pertahanan). Tipu muslihat politik “belah bambu” mereka adalah agar Israel bisa menciptakan konfrontasi antarfaksi di Palestina ke arah sebuah Perang Sipil antarwarga Palestina sendiri, walaupun rencana licik tersebut akhirnya gagal.
Pada saat yang sama, di tengah upaya perdamaian, Israel tetap melanjutkan pembangunan permukiman barunya bagi para imigran Yahudi dan “Tembok Berlin”-nya yang mengelilingi, menutup, memisahkan, dan membatasi kota-kota dan kampung-kampung di Palestina.
Dari perspektif ini kita bisa menyimpulkan bahwa “Peta Jalan” yang diprakarsai Bush tersebut telah gagal. Hal itu justru sangat diharapkan oleh pihak Israel. Kegagalan “Peta Jalan” menciptakan rasa frustasi yang besar tentang prospek perdamaian di Timur Tengah, tapi sekaligus memberikan Israel suatu “license to kill”, seperti ditulis Republika, untuk berbuat apa saja tanpa landasan hukum yang legal. Karena itu Israel kemudian berencana untuk membunuh dan mengusir Arafat dan tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Syeikh Ahmad Yasin.
Sayangnya, penolakan DK PBB dan 133 negara anggota Majelis Umum terhadap rencana Israel tersebut ternyata dengan mudah dapat diveto oleh AS dan Israel. Itu menandakan bahwa AS setuju terhadap segala upaya apapun dari Israel untuk menguasai Palestina, bahkan dengan cara membunuh atau mengusir Arafat dan tokoh-tokoh Palestina lainnya.
Perilaku politik luar negeri AS tersebut merupakan bukti nyata dari opini umum selama ini bahwa sekutu paling kuat dan tepercaya AS di dunia ini hanyalah Israel. Contoh paling aktual dan konkret dari reaksi AS adalah menyalahkan Suriah yang dianggapnya melindungi “kelompok teroris” ketika Israel menyerang teritori Suriah. Padahal kita tahu, serangan militer Israel ke dalam teritori Suriah tersebut sudah memiliki agenda yang jelas, yang juga diketahui dan didukung oleh pemerintah AS. Begitupun dengan aksi militer pesawat-pesawat tempur Israel ke wilayah Lebanon di atas langit Beirut dan Tripoli dan blokade ribuan militer Israel di wilayah Palestina secara nyata dan jelas mendapat restu dari AS.
Dari analisis dan fakta-fakta tersebut seharusnya kita mengerti bahwa tak ada logika di dalam gerakan Zionis Internasional untuk bersedia menciptakan perdamaian dunia. Di dalam berbagai kasus yang ada, konspirasi AS dan Israel tampaknya telah memasuki wilayah berbahaya sebagai “State-Terorism” yang dapat sangat mengancam perdamaian di Timur Tengah maupun belahan dunia lainnya. Kita mesti waspada terhadap konspirasi AS-Israel tersebut. Karena sebagai “Negara Teroris” (State-Terorism), yang didukung kemampuan finansial dan intelijen yang baik (well organized crime), mereka sedang mengarahkan pedangnya pada upaya penaklukan pusat-pusat kekuatan Islam di Timur Tengah, dan juga tentu saja, negara-negara Islam lainnya termasuk Indonesia. Agenda tersebut, sebenarnya, jauh-jauh hari telah dirancang sejak tahun 1993, ketika seorang Prof Yahudi, Samuel Huntington menulis karya mahadahyat tentang “The Clash of Civilization” pasca-runtuhnya imperium Uni Soviet, 1992. (RioL)